24 Januari 2012

Bekerja Dengan Ikhlas, Membawa Keberhasilan



Sebelum bergabung dengan LenSA NTB, saya pernah menggagas lahirnya organisasi anak yang berbentuk sanggar di Desa Mbawi. Organisasi tersebut kami (saya dan anak-anak) memberi nama “Sanggar Pelita” yang pengurus dan anggotanya terdiri dari anak-anak yang berusia 12 – 17 Tahun atau anak-anak yang duduk kelas 6 (enam) SD sampai SMA kelas 2 (dua). Ada berbagai kegiatan positif yang dilakukan oleh anak-anak yang terlibat dalam sanggar, seperti tugas disekolah yang sulit dikerjakan secara sendiri-sendiri, mereka membawa ke tempat sanggar untuk di kerjakan secara bersama-sama. Selama 2 (dua) tahun saya mendampingi Sanggar Pelita dengan intens, di tempat ini anak-anak selalu berbagi cerita dan pengalaman, baik itu cerita yang datangnya dari sekolah, lingkungan dan bahkan cerita-cerita yang terjadi pada keluarganya.

Pada suatu saat tepatnya pada taanggal 02 Juni 2006, 4 orang (2 Laki-laki dan 2 Perempuan) dan seorang pendamping anak di undang oleh salah satu Oragnisasi anak Kabupaten Dompu yakni Dewan Anak Dompu (DAD) yang di sponsori oleh LSM Internasional Plan Indonesia Dompu untuk mengikuti kegiatan Kongres Anak Dompu. Kegiatan Kongres Anak di ikuti juga dari berbagai Sanggar anak lainnya dan perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) setiap sekolah 3 (tiga) hari anak-anak dan saya mengikuti berbagai kegiatan. Selama 3 (tiga) hari mendampingi anak-anak, saya baru menyadari ternyata anak-anak juga mempunyai kemampuan melakukan seperti orang dewasa, hal ini bisa di lihat dari cara mereka mengadakan rapat seperti memimpin rapat, cara menyampaikan pendapat, dan juga memberikan input serta kritikan yang bagus, sampai kegiatannya berjalan lancar dan tertib, hingga menghasilkan perubahan pengurus Dewan Anak Dompu yang baru periode 2006 - 2008. Dalam kondisi ini orang dewasa hanya mendampingi dan mengarahkan sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan. Namun orang dewasa (pendamping anak) pada saat itu, juga melakukan diskusi sampai menghasilkan terbentuknya satu organisasi pendamping anak Kabupaten yang dinamakan Forum Peduli Anak Dompu atau biasa disebut FORPAD, saya juga terpilih jadi pengurus yaitu posisi sekretarisnya.
Dengan terlibat dalam organisasi FORPAD ini kami dengan seluruh anggota sering di percaya oleh Plan Indonesia Dompu untuk mengelola kegiatan yang berhubungan dengan anak. Nah, dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya sering di undang mengikuti acara-acara di tingkat Kabupten baik itu berhubungan dengan anak maupun kegiatan umum lainnya, dan bergabung dengan teman-teman LSM, aktivis, Mahasiswa dan unsur elit lainnya, sehingga saya mulai dikenal oleh banyak teman. Ketika bertemu kami sering berdiskusi tentang bagaimana pembangunan dompu kedepannya.
LenSA NTB yang fokus dengan advoaksi anggarannya, selalu memfasilitasi dan mensosialisasi tentang hasil risetnya mengenai penggunaan anggaran daerah, yakni belanja Tidak Langsung lebih kurang 70% (gaji pegawai)dan belanja
Langsungnya (Pembangunan rakyat) hanya 30%, membuat saya tertarik dan penasaran untuk mengetahui lebih dalam yang berhubungan dengan anggaran daerah. Saya sering datang jalan-jalan ke kantornya untuk belajar pada mereka, sampai suatu saat saya berbicara kepada teman-teman di LenSA NTB ingin sekali menjadi bagian dari advokasi ini, karena menurut saya bukan hanya teman-teman LenSA yang mempunyai tugas untuk menuju perubahan dompu ke arah yang lebih baik. Dengan memperhatikan harapan saya Direktur LenSA NTB (Akhdiansyah, S.Hi) menyatakan saya boleh menjadi Volentir, asal bisa menjaga nama lembaga dan berjuang untuk rakyat. Selain kepercayaan yang berharga tersebut, saya juga sering di undang pada acara-acara kegiatannya LenSA seperti Pertemuan mengenai Sekolah dan Kesehatan Gratis, Trainning Anggarannya dan kegiatan-kegiatan lainnya. Disitu saya sedikit paham tentang anggaran walau itu baru mengenal dan membaca dokumen anggaran daerah.
Pada tanggal 5 Mei 2011, saya di panggil oleh pihak LenSA NTB untuk datang ke kantor, saya di bawa oleh sandhy masuk ruangan. Pada saat itu, sandhy menawarkan kepada saya untuk sama-sama mengelola program yang baru digagasnya yakni kerjasama LenSA dan ACCESS Tahap II. Saya sangat bahagia mendengarnya, bahwa harapanku untuk mengetahui dan terlibat lebih dalam tentang Advokasi Anggaran yang pro poor serta berpihak pada perempuan akan segera jadi kenyataan. Mulai hari itu saya mulai rajin untuk datang ke kantor untuk membantu lembaga baik yang berkaitan dengan adminitrasi maupun merapikan alat dan bahan yang diperlukan, hingga suatu saat ada rapat pembagian tugas Pengelola Program kerjasama dengan ACCESS Tahap II. Pembagian peran tersebut menghasilkan :
1. Akhdiansyah, SH.i (Penanggung Jawab Program)
2. Sandhy Yusuf (Koordinator Program)
3. M. Syarifudin (Bendahara Program dengan ACCESS)
4. Dien Anesa Ekawati (Admin. Lembaga)
5. Jainudin (Petugas Lapangan Zona II, Kecamatan Woja, Manggelewa dan Kecamatan Kilo)
6. Nursymasidah (Petugas Lapangan Zona I, Kecamatan Dompu, Pajo dan Kecamatan Hu’u)
7. Rosmiati (Petugas Lapangan Zona III, Kecamatan Kempo dan Pekat)
Dengan adanya struktur pengelola program, saya terus belajar dengan cara membaca serta menanyakan kepada orang yang pintar untuk menghadapi masyarakat yang ada dilapangan. Setelah program berjalan saya yang ditugaskan mendampingi kecamatan Woja, Manggelewa dan Kilo, mendatangi warga dan pemerintah desa, untuk melakukan sosialisasi program yang akan dilaksanakan oleh LenSA NTB kedepanya. Dalam kurun waktu 2 bulan saya sudah memfasilitasi terbentuknya DPA di 6 (enam) desa.
Perubahan yang sangat siginifikan adalah dapat mengelompokkan teman-teman sehingga menjadi DPA, dan saya sudah seringkali memfasilitasi rapat-rapat, baik ditingkat Desa juga di tingkat lembaga, karena disaat melakukan musyawarah/ pertemuan tidak seharusnya direktur yang memimpin namun bisa diserahkan ke siapa yang mau memimpinnya termasuk saya pernah membuka rapat.
Merupakan kebanggaan tersendiri buat saya, karena bisa bergaul, berbagi (Sheer) dengan masyarakat dan pemerintah desa yang ada dimasing-masing wilayah dampingan. Disamping itu juga, saya bangga bisa mendapatkan honor (gaji) untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
(By JAINUDIN (Yudha), LenSA NTB)
Dokumentasi dan Pulikasi "Syaf Kaso"

0 komentar:

Pengunjung

Followers

-->
Mau punya chat online seperti ini?
Klik di sini (khairulumam.com)
 

LenSA. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com